KISAH KISAH TELADAN
Thursday, 26 October 2017
Tuesday, 28 January 2014
6. Apakah di Wajahnya Ada Cap Beriman ?
Dalam peperangan menghadapi orang kafir, Umar bin Chattab berhasil menjatuhkan musuhnya. Ketika Umar mengangkat pedang untuk membunuhnya, orang kafir itu mengucapkan syahadat. Namun oleh Umar orang kafir itu tidak dipedulikan. Dan orang itu tetap dibunuhnya.
Peristiwa dilaporkan oleh para sahabat kepada Nabi SAw. Umar dipanggil dan ditanya, "Benarkah engkau membunuh orang kafir yang telah mengucapkan syahadat?"
Umar tergagap berdalih,"Betul, sebab ia mengucapkan syahadat hanya untuk melindungi nyawanya semata"
Maka Nabi merah padam dan menegur keras."Umar...apakah di wajah orang itu ada cap yang mengatakan bahwa ia tidak beriman? jangan kau ulangi lagi perbuatan itu. Engkau tidak dapat membaca hati orang lain. Siapa tahu hidayah turunnya justru pada saat itu."
Umar amat menyesali kecerobohannya dan berubah menjadi panglima perang yang paling pemaaf. Jadi, tidak benarlah bahwa Islam ditegaskan dengan perang.
Bacalah surat Al BAqoroh ayat 256 yang berbunyi," Tidak ada paksaan dalam agama. Sudah jelas petunjuk yang benar dari pada kesesatan."
Ayat ini diturunkan ketika seorang bekas Yahudi bernama Al Hussain datang kepada Nabi mangadukan kedua anaknya yang bersikera tidak mau masuk Islam.
Al Hussain bertanya,"Apakah boleh kupaksa keduanya dengan kekerasan agar bersedia menjadi muslim?"
Nabi menjawab,"Tidak. Tidak ada paksaan dalam agama."
Malah paman beliau sendiri Abu Tholib tetap tidak mau masuk Islam sampai akhir hayatnya. ia dibiarkan tetap menjadi musyrik karena sudah berkali-kali diajak tetap tidak mau.
Itulah sebabnya dalam surat Al Kaafirun Allah menegaskan," Katakanlah hai kaum kafir. Aku tidak akan akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kalian tidak perlu menyembah apa yang kusrembah.... Bagimu agamamu bagiku agamaku"
Penulis Asli: K.H Abdurrahman Arroisi
Umar amat menyesali kecerobohannya dan berubah menjadi panglima perang yang paling pemaaf. Jadi, tidak benarlah bahwa Islam ditegaskan dengan perang.
Bacalah surat Al BAqoroh ayat 256 yang berbunyi," Tidak ada paksaan dalam agama. Sudah jelas petunjuk yang benar dari pada kesesatan."
Ayat ini diturunkan ketika seorang bekas Yahudi bernama Al Hussain datang kepada Nabi mangadukan kedua anaknya yang bersikera tidak mau masuk Islam.
Al Hussain bertanya,"Apakah boleh kupaksa keduanya dengan kekerasan agar bersedia menjadi muslim?"
Nabi menjawab,"Tidak. Tidak ada paksaan dalam agama."
Malah paman beliau sendiri Abu Tholib tetap tidak mau masuk Islam sampai akhir hayatnya. ia dibiarkan tetap menjadi musyrik karena sudah berkali-kali diajak tetap tidak mau.
Itulah sebabnya dalam surat Al Kaafirun Allah menegaskan," Katakanlah hai kaum kafir. Aku tidak akan akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kalian tidak perlu menyembah apa yang kusrembah.... Bagimu agamamu bagiku agamaku"
Penulis Asli: K.H Abdurrahman Arroisi
Saturday, 25 January 2014
5. Aibkah Beristri Lebih dari Satu
Secara alamiyah, jumlah perempuan jauh lebih banyak dibandingkan dengan kaum pria. Apalagi akibat peperangan yang terjadi. Populasi lelaki menyurut drastis, sementara kaum wanita mendominasi jumlah yang kian berlipat ganda.
Dengan cara apa ketimpangan ini dapat diatasi? Apakah kaum wanita yang berlebih itu lebih baik dieksekusi atau dieliminasi?
Yang berperikemanusiaan tentu akan menjawab tidak. Al Qur'an memberi jalan keluar melalui surat An-Nissa' ayat 3. "Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap anak yatim, maka nikahilah maka kawinilah wanita2 yang kamu sukai dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil maka nikahilah seorang saja atau hamba-hamba sahaya yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat lalim.
Dari ayat itu saja sudah terserap hakikat ajaran Al Qur'an yang lebih cenderung ke perkawinan monogami. Kecuali terpaksa, dengan tujuan di luar kepentingan syahwat biologis, maka poligami adalah ibarat pintu darurat dalam pesawat terbang. Boleh dipergunakan tetapi dengan tujuan yang lebih mulia, demi kehidupan yang lebih baik buat semua pihak dan dengan tujuan sosial.
Siti Aisyah dinikahi Nabi ketika masih remaja oleh Nabi SAW. Baru digauli layaknya suami istri 5 th setelah perkawinannya. Dengan tujuan untuk mendidik langsung Aisyah agar nantinya bisa memimpin kaum wanita dan mndampingi Nabi dalam menyelesaikan masalah kewanitaan. Sebab hanya Aisyah lah yang dinikahi Nabi dalam keadaan perawan dan hanya Aisyah pula yang dinikahi Nabi atas keinginannya sendiri dengan persetujuan wahyu. Atas pertimbangan Aisyah mempunyai kecerdasan dan bakat kepemimpinan. Menurut satu riwayat, Aisyah dinikahi setahun setelah Khadijah wafat. Tetapi riwayat lain mengatakan dinikahi 3 th setelah khadijah wafat tatkala Nabi sudah hijrah ke Madinah.
Hafshah putri Umar bin Khattab misalnya. Ia seorang janda sudah agak berumur dan bukan wanita rupawan. Melihat kemurungan Hafshah tiap hari tanpa suami. Umar menawarkan kepada Abu Bakar agar bersedia mengambil anaknya sebagai istri mudanya, tetapi Abu Bakar menolak.
Lalu Umar menawarkannya kepada Utsman. sahabat inipun keberatan. Ia tidak mau. Umar uring-uringan.
"Keterlaluan. Sungguh keterlaluan. Para sahabatku tidak ada yang bersedia menjadi suami anak-anakku."
Dalam keadaan seperti itulah Nabi mendatang Umar bin Khattab dan meminang Hafshah untuk menjadi istrinya. Siapa yang tidak berbangga hati terangkat sebagai mertua Nabi SAW? Begitulah cara Nabi mengangkat martabat seorang janda yang telah berumur.
Lalu dengan Maria Qibthiyah yang membuahkan seorang anak namanya Ibrahim.
Mengikuti adat istiadat para raja di zaman itu, penguasa Mesir Muqauqia mengirimkan tanda persahabatan antara lain seorang hamba sahaya wanita, bernama Maria dari suku Qibthi. Tentu saja tidak ada hamba sahaya yang masih gadis.
Oleh Nabi SAW, hamaba sahaya yang dalam pandangan manusia dianggap hanya sebagai harta benda belaka, langsung dinaikkan derajatnya menjadi istri yang sah dan berhak menyandang gelar seperti Aisyah
dan almarhumah Khadijah selaku Ummul Mu'min.
Nabi juga dituntut untuk mengatasi kemelut rumah tangga anak angkatnya, Zaid bin Haritsah yang tadinya seorang budak.
Zainab binti Jahsy adalah putri berdarah biru dari kalangan ningrat Arab. Ia gembira waktu dilamar Muhammad untuk menjadi istri anak angkatnya. Tetapi setelah tahu Zaid adalah bekas budak, dan anak angkat tidak sama dengan anak kandung, timbullah ketegangan rumah tangga yang makin mejadi-jadi.
Zaid sampai mengadu kepada Nabi bahwa ia tidak tahan menghadapi Zainab dan ingin menceraikannya. Nabi masih menganjurkan agar perkawinan itu diperbaiki dan dilestarikan sebab perceraian walau dihalalkan tapi dimurkai oleh Allah.
Ternyata hanya sementara waktu saja perkawinan tersebut dipertahankan. Terjadilah perceraian yang berakibat buruk bagi Zainab. Sebab sebagai putri bangsawan yamg kemudian menjadi istri bekas budak, status sosialnya jatuh di mata masyarakat ketika itu. Siapa yang bakal mau mengawini janda mantan budak ?
Dalam kemurungan sepert itu Rasulullah menawari Zainab untuk menjadi istrinya. Alangkah gembira dan terhormatnya Zainab serta keluarganya dengan kejadian itu. Sekaligus untuk menghapus pendapat yang salah seolah-olah anak angkat sama saja dengan anak kandung.
Anak tidaklah sama dengan anak kandung. Anak angkat bisa menjadi istri ibu angkatnya, atau suami bapak angkatnya. Hal ini agar bisa umat Islam berhati-hati dalam memutuskan untuk mengambil anak angkat. Sebab kalau salah dapat menyebabkan fitnah dan cemburu antara suami istri saat dewasa kelak.
Dalam usahanya menghancurkan umat Islam, Huyai bin Akhtab tidak segan-segan melakukan persekongkolan jahat dengan kaum subversif dari luar. Itulah sebabnya sejak tertangkap ia dijatuhi hukuman mati.
Istrinya yang bernama Shafiyah amat menderita. Ia telunta-lunta. Tidak ada seorangpun yang memperhatikan nasibnya. Oleh kaum Yahudi, ia dianggap nista karena suaminy, pemimpin Yahudi Bani Nadhir, Huyai bin Akhtab dianggap sebagai pria Yahudi yang tidak becus dan pengecut.
Kondisi seperti itu diperhatikan oleh Nabi pada waktu beliau menyerbu tentara Akhzab di benteng Khaibar. Shafiyah tidak digubris oleh sukunya. Oleh umat Islam tentu saja dipandang lebih hina lagi lantaran ia janda pemimpin Yahudi.
Jadi rendahkah martabat Nabi jika beliau melamar Shafiyah untuk menjadi istrinya? Tentu saja tidak. Tindakan tersebut adalah suatu keberanian dan kemuliaan moral yang tiada taranya.
Demikianlah antara lain sebab-sebab yang melatarbelakangi perkawinan poligami Rasulullah, yang baru beliau hentikan setelah Allah menetapkan hukum yang hanya memperkenankan sampai 4 istri saja bagi laki-laki muslim yang memiliki persyaratan untuk melakukan poligami, tidak untuk petualangan syahwat belaka, namun untuk niatan yang suci.
( Pengarang asli: K.H Abdurrahman Arroisi )
Dengan cara apa ketimpangan ini dapat diatasi? Apakah kaum wanita yang berlebih itu lebih baik dieksekusi atau dieliminasi?
Yang berperikemanusiaan tentu akan menjawab tidak. Al Qur'an memberi jalan keluar melalui surat An-Nissa' ayat 3. "Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap anak yatim, maka nikahilah maka kawinilah wanita2 yang kamu sukai dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil maka nikahilah seorang saja atau hamba-hamba sahaya yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat lalim.
Dari ayat itu saja sudah terserap hakikat ajaran Al Qur'an yang lebih cenderung ke perkawinan monogami. Kecuali terpaksa, dengan tujuan di luar kepentingan syahwat biologis, maka poligami adalah ibarat pintu darurat dalam pesawat terbang. Boleh dipergunakan tetapi dengan tujuan yang lebih mulia, demi kehidupan yang lebih baik buat semua pihak dan dengan tujuan sosial.
Siti Aisyah dinikahi Nabi ketika masih remaja oleh Nabi SAW. Baru digauli layaknya suami istri 5 th setelah perkawinannya. Dengan tujuan untuk mendidik langsung Aisyah agar nantinya bisa memimpin kaum wanita dan mndampingi Nabi dalam menyelesaikan masalah kewanitaan. Sebab hanya Aisyah lah yang dinikahi Nabi dalam keadaan perawan dan hanya Aisyah pula yang dinikahi Nabi atas keinginannya sendiri dengan persetujuan wahyu. Atas pertimbangan Aisyah mempunyai kecerdasan dan bakat kepemimpinan. Menurut satu riwayat, Aisyah dinikahi setahun setelah Khadijah wafat. Tetapi riwayat lain mengatakan dinikahi 3 th setelah khadijah wafat tatkala Nabi sudah hijrah ke Madinah.
Hafshah putri Umar bin Khattab misalnya. Ia seorang janda sudah agak berumur dan bukan wanita rupawan. Melihat kemurungan Hafshah tiap hari tanpa suami. Umar menawarkan kepada Abu Bakar agar bersedia mengambil anaknya sebagai istri mudanya, tetapi Abu Bakar menolak.
Lalu Umar menawarkannya kepada Utsman. sahabat inipun keberatan. Ia tidak mau. Umar uring-uringan.
"Keterlaluan. Sungguh keterlaluan. Para sahabatku tidak ada yang bersedia menjadi suami anak-anakku."
Dalam keadaan seperti itulah Nabi mendatang Umar bin Khattab dan meminang Hafshah untuk menjadi istrinya. Siapa yang tidak berbangga hati terangkat sebagai mertua Nabi SAW? Begitulah cara Nabi mengangkat martabat seorang janda yang telah berumur.
Lalu dengan Maria Qibthiyah yang membuahkan seorang anak namanya Ibrahim.
Mengikuti adat istiadat para raja di zaman itu, penguasa Mesir Muqauqia mengirimkan tanda persahabatan antara lain seorang hamba sahaya wanita, bernama Maria dari suku Qibthi. Tentu saja tidak ada hamba sahaya yang masih gadis.
Oleh Nabi SAW, hamaba sahaya yang dalam pandangan manusia dianggap hanya sebagai harta benda belaka, langsung dinaikkan derajatnya menjadi istri yang sah dan berhak menyandang gelar seperti Aisyah
dan almarhumah Khadijah selaku Ummul Mu'min.
Nabi juga dituntut untuk mengatasi kemelut rumah tangga anak angkatnya, Zaid bin Haritsah yang tadinya seorang budak.
Zainab binti Jahsy adalah putri berdarah biru dari kalangan ningrat Arab. Ia gembira waktu dilamar Muhammad untuk menjadi istri anak angkatnya. Tetapi setelah tahu Zaid adalah bekas budak, dan anak angkat tidak sama dengan anak kandung, timbullah ketegangan rumah tangga yang makin mejadi-jadi.
Zaid sampai mengadu kepada Nabi bahwa ia tidak tahan menghadapi Zainab dan ingin menceraikannya. Nabi masih menganjurkan agar perkawinan itu diperbaiki dan dilestarikan sebab perceraian walau dihalalkan tapi dimurkai oleh Allah.
Ternyata hanya sementara waktu saja perkawinan tersebut dipertahankan. Terjadilah perceraian yang berakibat buruk bagi Zainab. Sebab sebagai putri bangsawan yamg kemudian menjadi istri bekas budak, status sosialnya jatuh di mata masyarakat ketika itu. Siapa yang bakal mau mengawini janda mantan budak ?
Dalam kemurungan sepert itu Rasulullah menawari Zainab untuk menjadi istrinya. Alangkah gembira dan terhormatnya Zainab serta keluarganya dengan kejadian itu. Sekaligus untuk menghapus pendapat yang salah seolah-olah anak angkat sama saja dengan anak kandung.
Anak tidaklah sama dengan anak kandung. Anak angkat bisa menjadi istri ibu angkatnya, atau suami bapak angkatnya. Hal ini agar bisa umat Islam berhati-hati dalam memutuskan untuk mengambil anak angkat. Sebab kalau salah dapat menyebabkan fitnah dan cemburu antara suami istri saat dewasa kelak.
Dalam usahanya menghancurkan umat Islam, Huyai bin Akhtab tidak segan-segan melakukan persekongkolan jahat dengan kaum subversif dari luar. Itulah sebabnya sejak tertangkap ia dijatuhi hukuman mati.
Istrinya yang bernama Shafiyah amat menderita. Ia telunta-lunta. Tidak ada seorangpun yang memperhatikan nasibnya. Oleh kaum Yahudi, ia dianggap nista karena suaminy, pemimpin Yahudi Bani Nadhir, Huyai bin Akhtab dianggap sebagai pria Yahudi yang tidak becus dan pengecut.
Kondisi seperti itu diperhatikan oleh Nabi pada waktu beliau menyerbu tentara Akhzab di benteng Khaibar. Shafiyah tidak digubris oleh sukunya. Oleh umat Islam tentu saja dipandang lebih hina lagi lantaran ia janda pemimpin Yahudi.
Jadi rendahkah martabat Nabi jika beliau melamar Shafiyah untuk menjadi istrinya? Tentu saja tidak. Tindakan tersebut adalah suatu keberanian dan kemuliaan moral yang tiada taranya.
Demikianlah antara lain sebab-sebab yang melatarbelakangi perkawinan poligami Rasulullah, yang baru beliau hentikan setelah Allah menetapkan hukum yang hanya memperkenankan sampai 4 istri saja bagi laki-laki muslim yang memiliki persyaratan untuk melakukan poligami, tidak untuk petualangan syahwat belaka, namun untuk niatan yang suci.
( Pengarang asli: K.H Abdurrahman Arroisi )
Wednesday, 22 January 2014
4. Kesombongan Mengalahkan Hati Nurani
Sudah semenjak sebelum kedatangan Islam, Abu Dzar Al Ghifari bersahabat akrab dengan Am bin Hisyam yang terkenal dengan julukannya Abu Jahal. Keduanya sama-sama saudagar dan malah berkongsi dagang yang saling menguntungkan. Bila berkunjung ke Mekkah Abu Dzar selalu membawa barang-barang dagangan yang dijual dengan perantara Abu Jahal.
pad suatu hari kedatangan Abu dzas tidak membawa apa-apa. Tidak barang-barang , tidak pula perniagaan.
Dengan kebingungan Abu Jahal bertanya'" Engkau membawa barang dagangan wahai sahabatku ?"
Abu dzar menjawab," Tidak"
"Engkau membawa uang?" tanya Abu Jahal makin kebingungan.
"Juga tidak."
"Sudah gilakah engkau sahabatku? Datang jauh-jauh ke Mekkah tidak membawa barang ataupun uang. Jadi dengan tujuan apa engkau datang kemari?"
Dengan tenamg Abu Dzar menjelaskan," Kali ini kedatanganku kemari bukan untuk mengadu untung perdagangan."
"Lalu untuk apa?"
"Aku ingin bertemu dengan keponakanmu"
Abu Jahal semakin tidak mengerti ," Untuk bertemu dengan keponakanku? Siapa yang kau maksudkan?"
"Muhammad", Jawab Abu Dzar tegas. "Aku dengar dari beberapa sahabatku bahwa ia telah diangkat menjadi Rasul? Bukankah Muhammad adalah anak saudaramu? Engkau harus bangga mempunyai keponakan semulia itu."
Sambil mengernyitkan dahi, Abu jahal berkata kera, " Hai sahabatku, dengarkan nasihatku. jangan kau temui dia."
"Mengapa?"
"Muhammad itu amat menarik. Sekali berjumpa engkau pasti akan terpikat kepadanya. Wajahnya bersih, pakaiannya penuh mutiara hikmat. Perilakunya amat lembut dan sopan santunnya sangat luar biasa. Apalagi kalau dia membacakan wahyu, semua kalimatnya menyentuh jiwa."
"Berarti engkau yakin ia seorang Rasul ?"
"tentu saja ia seorang Rasul. Otaknya amat cerdas. Budi pekertinya sangat mulia. Ketabahannya melebihi manusia biasa. Daya tariknya hebat bukan main."
"Engkau yakin keponakanmu itu utusabn Allah?" tanya Abu Dzar.
"Yakin betul"
"Kau percaya bahwa ia benar?"
"Lebih dari sekedar percaya."
"Jadi engkau mengikuti ajaran agamanya?"
"Apa? geram Abu Jahal, "Ulangi sekali lagi pertanyaanmu!"
"Maksudku , apakah engkau sudah masuk Islam?"
"Aku masih tetap Abu Jahal, sahabatku, bukan orang yang sudah miring. Dibayar berapapun aku tetap tak mau mengikutinya."
"Bukankah emgkau yakin bahwa Muhammad benar?"
"Walaupun aku yakin Muhammad benar, aku tetap melawan sampai kapanpun juga."
"Apa sebabnya?"
Abu Jahal menjawab,"Kedudukn dan wibawaku akan hancur berantakan jika aku mengikuti keponakanku sendiri. Akn kuletakkan dimana mukaku di mata bangsa Quraisy."
"Pendirianmu keliru..sahabat," tegur Abu Dzar
"Aku tahu bahwa aku memang keliru"
"Kelak kau akan kalah"
"Ya. Bisa saja aku kalah. Bahkan aku tahu aku bakal dimasukkan ke dalam neraka jahim. Tapi aku tidak mau dikalahkan Muhammad di dunia, walaupun aku tahu akan dikalahkannya di akhirat kelak."
Demikianlah yang terjadi, hati nuarani sering terpaksa dikalahkan oleh keserakahan dan kesombongan diri.
pad suatu hari kedatangan Abu dzas tidak membawa apa-apa. Tidak barang-barang , tidak pula perniagaan.
Dengan kebingungan Abu Jahal bertanya'" Engkau membawa barang dagangan wahai sahabatku ?"
Abu dzar menjawab," Tidak"
"Engkau membawa uang?" tanya Abu Jahal makin kebingungan.
"Juga tidak."
"Sudah gilakah engkau sahabatku? Datang jauh-jauh ke Mekkah tidak membawa barang ataupun uang. Jadi dengan tujuan apa engkau datang kemari?"
Dengan tenamg Abu Dzar menjelaskan," Kali ini kedatanganku kemari bukan untuk mengadu untung perdagangan."
"Lalu untuk apa?"
"Aku ingin bertemu dengan keponakanmu"
Abu Jahal semakin tidak mengerti ," Untuk bertemu dengan keponakanku? Siapa yang kau maksudkan?"
"Muhammad", Jawab Abu Dzar tegas. "Aku dengar dari beberapa sahabatku bahwa ia telah diangkat menjadi Rasul? Bukankah Muhammad adalah anak saudaramu? Engkau harus bangga mempunyai keponakan semulia itu."
Sambil mengernyitkan dahi, Abu jahal berkata kera, " Hai sahabatku, dengarkan nasihatku. jangan kau temui dia."
"Mengapa?"
"Muhammad itu amat menarik. Sekali berjumpa engkau pasti akan terpikat kepadanya. Wajahnya bersih, pakaiannya penuh mutiara hikmat. Perilakunya amat lembut dan sopan santunnya sangat luar biasa. Apalagi kalau dia membacakan wahyu, semua kalimatnya menyentuh jiwa."
"Berarti engkau yakin ia seorang Rasul ?"
"tentu saja ia seorang Rasul. Otaknya amat cerdas. Budi pekertinya sangat mulia. Ketabahannya melebihi manusia biasa. Daya tariknya hebat bukan main."
"Engkau yakin keponakanmu itu utusabn Allah?" tanya Abu Dzar.
"Yakin betul"
"Kau percaya bahwa ia benar?"
"Lebih dari sekedar percaya."
"Jadi engkau mengikuti ajaran agamanya?"
"Apa? geram Abu Jahal, "Ulangi sekali lagi pertanyaanmu!"
"Maksudku , apakah engkau sudah masuk Islam?"
"Aku masih tetap Abu Jahal, sahabatku, bukan orang yang sudah miring. Dibayar berapapun aku tetap tak mau mengikutinya."
"Bukankah emgkau yakin bahwa Muhammad benar?"
"Walaupun aku yakin Muhammad benar, aku tetap melawan sampai kapanpun juga."
"Apa sebabnya?"
Abu Jahal menjawab,"Kedudukn dan wibawaku akan hancur berantakan jika aku mengikuti keponakanku sendiri. Akn kuletakkan dimana mukaku di mata bangsa Quraisy."
"Pendirianmu keliru..sahabat," tegur Abu Dzar
"Aku tahu bahwa aku memang keliru"
"Kelak kau akan kalah"
"Ya. Bisa saja aku kalah. Bahkan aku tahu aku bakal dimasukkan ke dalam neraka jahim. Tapi aku tidak mau dikalahkan Muhammad di dunia, walaupun aku tahu akan dikalahkannya di akhirat kelak."
Demikianlah yang terjadi, hati nuarani sering terpaksa dikalahkan oleh keserakahan dan kesombongan diri.
Tuesday, 21 January 2014
3. Kenangan yang Mengesankan
Rumah tangga Rasulullah dengan Khadijah sangat harmonis walaupun ketika Rasulullah berusia 40th istrinya sudah berusia 55th.
Setelah Muhammad berhalwat di gua Hira', Khadijah yang membawakan makanan dan minuman untuk suaminya, walaupun jalan menuju ke gua Hira' yang terletak di puncak Jabal Nur sangat jauh dan tinggi, berbatu-batu runcing.
Sesudah mendapatkan wahyu, Muhammad menggigil kedinginan, Khadijah menyelimutinya dengan penuh kasih sayang. Dan hati Muhammad menjadi tenteram setelah menerima pernyataan Khadijah yang beriman kepadanya sebagai seorang utusan Tuhan.
Maka alangkah hancur hati Rasulullah ketika Khadijah meninggal dunia justru tatkala kelembutan dan kebijaksanaannya dibutuhkan pada saat-saat rawan menghadapi perlawanan kaum musyrikin pada awal penyebaran da'wahnya.
Hingga 3th lamanya Rasulullah tetap menduda. Setelah berhijrah ke Madinah, barulah beliau bersedia mengawini Siti Aisyah putri sahabatnya sendiri, Abu Bakar As-Shiddiq.
Aisyah adalah seorang gadis yang cantik. Satu-satunya yang perawan dan manis dari istri Rasulullah. Akan tetapi Nabi tidak dapat menghilangkan kenangan yang indah bersama Khadijah, yang usianya terpaut 15th lebih tua. Seringkali beliau mengigau dan dalam igauannya yang disebut-sebut adalah nama Khadijah.
Kalau sedang makan berdua, Nabi minta disediakan 3 piring. Dengan keberatan Aisyah bertanya," Untuk siapakah piring yang ketiga itu? Bukankah kita cuma berdua?"
Nabi menjawab,"Yang sepiring akan kusedekahkan bagi orang lain. Pahalanya kuberikan untuk Khadijah."
Sampai lama-lama Aisyah tidak tahan lagi dan bertanya," Ya Rasulullah...di hadapanmu ini ada istri yang cantik dan muda. Amat setia kepada suami... tetapi kenapa masih kau sebut-sebut juga yang sudah meninggal itu? yang kau nikahi sudah usia lanjut menurut ukuran wanita? Apa sebabnya? Dan apa rahasia kemuliaan wanita yang sudah janda 2 x sebelum menjadi istrimu tersebut?"
Nabi Muhammad SAW dengan bijaksana tetapi tegas menerangkan,"Aisyah ...Khadijah sungguh amat mulia. Allah tak kan pernah menggantikan untukku seorang istri yang lebih baik dari padanya."
"Apa keistimewaannya ya Rasulullah ?" tanya Aisyah lebih lanjut.
Nabi menjawab," Khadijah mencintaiku pada saat aku sedang sengsara. Khadijah beriman kepadaku pada saat orang lain menganggapku gila. Khadijah banyak sekali memberi pengorbanan untukku pada saat orang lain menolak dan memusuhiku. Patutkah aku melupakan perempuan seagung itu...walaupun seandainya dia bukan istriku? Dan dia istriku, Aisyah. Ia tetap istriku hingga kapan juga. Maut pun tak dapat menghilangkan perasaan ini."
Setelah Muhammad berhalwat di gua Hira', Khadijah yang membawakan makanan dan minuman untuk suaminya, walaupun jalan menuju ke gua Hira' yang terletak di puncak Jabal Nur sangat jauh dan tinggi, berbatu-batu runcing.
Sesudah mendapatkan wahyu, Muhammad menggigil kedinginan, Khadijah menyelimutinya dengan penuh kasih sayang. Dan hati Muhammad menjadi tenteram setelah menerima pernyataan Khadijah yang beriman kepadanya sebagai seorang utusan Tuhan.
Maka alangkah hancur hati Rasulullah ketika Khadijah meninggal dunia justru tatkala kelembutan dan kebijaksanaannya dibutuhkan pada saat-saat rawan menghadapi perlawanan kaum musyrikin pada awal penyebaran da'wahnya.
Hingga 3th lamanya Rasulullah tetap menduda. Setelah berhijrah ke Madinah, barulah beliau bersedia mengawini Siti Aisyah putri sahabatnya sendiri, Abu Bakar As-Shiddiq.
Aisyah adalah seorang gadis yang cantik. Satu-satunya yang perawan dan manis dari istri Rasulullah. Akan tetapi Nabi tidak dapat menghilangkan kenangan yang indah bersama Khadijah, yang usianya terpaut 15th lebih tua. Seringkali beliau mengigau dan dalam igauannya yang disebut-sebut adalah nama Khadijah.
Kalau sedang makan berdua, Nabi minta disediakan 3 piring. Dengan keberatan Aisyah bertanya," Untuk siapakah piring yang ketiga itu? Bukankah kita cuma berdua?"
Nabi menjawab,"Yang sepiring akan kusedekahkan bagi orang lain. Pahalanya kuberikan untuk Khadijah."
Sampai lama-lama Aisyah tidak tahan lagi dan bertanya," Ya Rasulullah...di hadapanmu ini ada istri yang cantik dan muda. Amat setia kepada suami... tetapi kenapa masih kau sebut-sebut juga yang sudah meninggal itu? yang kau nikahi sudah usia lanjut menurut ukuran wanita? Apa sebabnya? Dan apa rahasia kemuliaan wanita yang sudah janda 2 x sebelum menjadi istrimu tersebut?"
Nabi Muhammad SAW dengan bijaksana tetapi tegas menerangkan,"Aisyah ...Khadijah sungguh amat mulia. Allah tak kan pernah menggantikan untukku seorang istri yang lebih baik dari padanya."
"Apa keistimewaannya ya Rasulullah ?" tanya Aisyah lebih lanjut.
Nabi menjawab," Khadijah mencintaiku pada saat aku sedang sengsara. Khadijah beriman kepadaku pada saat orang lain menganggapku gila. Khadijah banyak sekali memberi pengorbanan untukku pada saat orang lain menolak dan memusuhiku. Patutkah aku melupakan perempuan seagung itu...walaupun seandainya dia bukan istriku? Dan dia istriku, Aisyah. Ia tetap istriku hingga kapan juga. Maut pun tak dapat menghilangkan perasaan ini."
2. Pemimpin Sejati
Sesudah putus asa menghalangi Nabi Muhammad dengan kekerasan sebab ternyata tidak menggetarkan Muhammada dan pengikutnya. Abu jahal lalu mendatangi Abu Thalib, paman dan pelindung Rasulullah SAW
Abu Jahal meminta agar disampaikan kepada Muhammad, ia akan memberikan apa saja yang dikehendaki Muhammad; gadis-gadis yang paling cantik, harta kekayaan yang paling melimpah, atau kedudukan yang terhormat dalam jajaran kepimimpinan bangsa Arab.
Abu Thalib segera menyampaikan tawaran Abu Jahal dan suku Quraisy itu kepada Nabi Muhammad SAW.
Dengan tegar nabi mengatakan, "Dem Allah, wahai pamanku. Andaikata diletakkannya matahari di tangan kananku, bulan di tangan kiriku sekalipun, supaya saya menggagalkan perjuangan menegakkan kebenaran, takkan saya surut, sampai tercapai kemenangan atau saya mati binasa."
Itulah benih kegigihan dan ketangguhan Rasulullah semenjak awal perjuangan. Ternyata sifat beliau tidak berubah walaupun sudah berhasil menjadi pemimpin umat yang agung dan disegani.
Pada suatu malam terdengar suara ribut-ribut dari arah luar kota Madinah.Para sahabat mengira musuh sedang bergerak hendak menyerang kota.Waktu Nabi sedang tidur, jadi para sahabat sepakat tidak memberitahu Rasulullah, sebab mereka tahu Nabi sangat lelah.
Merka segera memberangkatkan sepasukan tentara menuju ke arah terjadinya keributan tersebut. Di tengah perjalanan, sebelum tiba ke tempat itu, mereka berpapasan degan Rasulullah yang sedang mengendarai kuda hendak kembali ke Madinah. Di pinggangnya terselempang sebilah pedang.
Nabi berkata ."Wahai para sahabatku yang setia. Pulang sajalah kita ke Madinah.Tidak ada apa-apa di sana. Tidak ada musuh ,aman. Yang ribut-ribut itu hanya suara kuda yang kedinginan."
Alangkah malunya para sahabat. Ternyata mereka kalah tanggap dan kalah cekatan dibandingkan dengan Rasulullah SAW yang disangka masih tertidur lelap di pembaringan. Tidak berbeda sikapnya dalam situasi gawat.
Dalam suatu peperangan Nabi pernah terlalu capek sampai lengah, ia tertidur di bawah pohon tanpa membawa sebilah senjata pun. Seorang pendekar kaum musyrikin yang ditakuti tiba-tiba muncul di hadapannya, berdiri berkacak pinggang, pada saat Nabi terkantuk-kantuk.
Dengan suara lantang dedengkot musuh yang bernama Da'tsur itu membentak Nabi sambil mengacungkan pedangnya,"Hai Muhammad, siapa sekarang yang bisa menyelamatkanmu dari pedangku?"
Nabi tersentak sesaat, lalu menatap lurus di matanya. Da'tsur tergetar melihat pandangan sejuk tapi tidak kenal takut tersebut. Nabi menjawab tenang." Allah, Allah yang akan melindungi diriku."
Da'tsur menggigil mendengar nama Allah yang disebut sebut Muhammad itu, macam apa pula kekuatan Allah sampai ia yakin Allah pasti melindunginya? Karena kebimbangannya kian memuncak menyaksikan Nabi tetap tabah, akhirnya pedang Da'tsur terlepas dan jatuh.
Nabi segera mengambil pedang tersebut lantas mengacungkannya kepada Da'tsur,"Nah kini siapa yang bisa menyelamatkanmu dari pedangku?"
Dengan bibir begetar Da'tsur menjawab'"Hanya engkau Muhammad...hanya engkau"
Namun Muhammad bukanlah pemimpin yang suka menyimpan dendam. Beliau tidak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan. Maka beliau segera menyerahkan kembali pedang itu kepada Da'tsur.
Dengan terjadinya peristiwa itu kelak Da'tsur pun masuk Islam dan menjadi pembela Islam.
Abu Jahal meminta agar disampaikan kepada Muhammad, ia akan memberikan apa saja yang dikehendaki Muhammad; gadis-gadis yang paling cantik, harta kekayaan yang paling melimpah, atau kedudukan yang terhormat dalam jajaran kepimimpinan bangsa Arab.
Abu Thalib segera menyampaikan tawaran Abu Jahal dan suku Quraisy itu kepada Nabi Muhammad SAW.
Dengan tegar nabi mengatakan, "Dem Allah, wahai pamanku. Andaikata diletakkannya matahari di tangan kananku, bulan di tangan kiriku sekalipun, supaya saya menggagalkan perjuangan menegakkan kebenaran, takkan saya surut, sampai tercapai kemenangan atau saya mati binasa."
Itulah benih kegigihan dan ketangguhan Rasulullah semenjak awal perjuangan. Ternyata sifat beliau tidak berubah walaupun sudah berhasil menjadi pemimpin umat yang agung dan disegani.
Pada suatu malam terdengar suara ribut-ribut dari arah luar kota Madinah.Para sahabat mengira musuh sedang bergerak hendak menyerang kota.Waktu Nabi sedang tidur, jadi para sahabat sepakat tidak memberitahu Rasulullah, sebab mereka tahu Nabi sangat lelah.
Merka segera memberangkatkan sepasukan tentara menuju ke arah terjadinya keributan tersebut. Di tengah perjalanan, sebelum tiba ke tempat itu, mereka berpapasan degan Rasulullah yang sedang mengendarai kuda hendak kembali ke Madinah. Di pinggangnya terselempang sebilah pedang.
Nabi berkata ."Wahai para sahabatku yang setia. Pulang sajalah kita ke Madinah.Tidak ada apa-apa di sana. Tidak ada musuh ,aman. Yang ribut-ribut itu hanya suara kuda yang kedinginan."
Alangkah malunya para sahabat. Ternyata mereka kalah tanggap dan kalah cekatan dibandingkan dengan Rasulullah SAW yang disangka masih tertidur lelap di pembaringan. Tidak berbeda sikapnya dalam situasi gawat.
Dalam suatu peperangan Nabi pernah terlalu capek sampai lengah, ia tertidur di bawah pohon tanpa membawa sebilah senjata pun. Seorang pendekar kaum musyrikin yang ditakuti tiba-tiba muncul di hadapannya, berdiri berkacak pinggang, pada saat Nabi terkantuk-kantuk.
Dengan suara lantang dedengkot musuh yang bernama Da'tsur itu membentak Nabi sambil mengacungkan pedangnya,"Hai Muhammad, siapa sekarang yang bisa menyelamatkanmu dari pedangku?"
Nabi tersentak sesaat, lalu menatap lurus di matanya. Da'tsur tergetar melihat pandangan sejuk tapi tidak kenal takut tersebut. Nabi menjawab tenang." Allah, Allah yang akan melindungi diriku."
Da'tsur menggigil mendengar nama Allah yang disebut sebut Muhammad itu, macam apa pula kekuatan Allah sampai ia yakin Allah pasti melindunginya? Karena kebimbangannya kian memuncak menyaksikan Nabi tetap tabah, akhirnya pedang Da'tsur terlepas dan jatuh.
Nabi segera mengambil pedang tersebut lantas mengacungkannya kepada Da'tsur,"Nah kini siapa yang bisa menyelamatkanmu dari pedangku?"
Dengan bibir begetar Da'tsur menjawab'"Hanya engkau Muhammad...hanya engkau"
Namun Muhammad bukanlah pemimpin yang suka menyimpan dendam. Beliau tidak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan. Maka beliau segera menyerahkan kembali pedang itu kepada Da'tsur.
Dengan terjadinya peristiwa itu kelak Da'tsur pun masuk Islam dan menjadi pembela Islam.
Sunday, 19 January 2014
1. Wanita Pengusaha yang Baik Budi
Para wanita Quraisy sedang merayakan Hari Perempuan di sekitar Ka'bah. Tiba-tiba seorang laki-laki Yahudi menghampiri mereka tanpa permisi, Yahudi itu segera berseru, " Hai kaum hawa bangsa Arab. Seorang nabi terakhir akan muncul di negeri ini. Siapakah di antara kalian yang ingin jadi permaisurinya?"
Perempuan-perempuan itu naik pitam. Tanpa berpikir panjang, mereka mencaci-maki Yahudi tersebut. bahkan ada yang melemparinya dengan batu-batu kecil.
Seorang janda berusia sekitar 40 tahun, bernama Khadijah binti Khuwailid sama sekali tidak terbawa-bawa untuk ikut menista Yahudi itu. Ia sudah menjanda 2 x, jadi tak terpikir akan menjadi istri seorang Nabi.
Tapi ia teringat akan mimpinya semalam. Matahari turun di kota Makkah dan jatuh ke dalam rumahnya. Sinarnya memancar dari rumah dan menerangi sekitarnya. Aneh.
Pada saat yang hampir bersamaan, seorang bangsawan Quraisy bernama Abu Thalib sedang berunding dengan saudara perempuanny, Atikah. Mereka sedang memperbincangkan kemenakannya bernama Al Amien atau yang dapat dipercaya.
" Muhammad sudah 25 th, apakah tidak sebaiknya kita carikan jodoh untuknya?" usul Abu Thalib.
Atikah menyanggah, "Aku tidak setuju Muhammad belum punya apa-apa. Sebaiknya Muhammad kita suruh berdagang saja, seperti umumnya pria Quraisy".
"Dagang apa? dan dari mana modalnya?"
Atikah menjawab,"Kalau dia mau kita suruh saja membawa dagangan Khadijah. Banyak orang lain yang yang menjualkan barang perniagaan janda kaya itu. Terserah Khadijah sajalah disuruh dagang apalah Muhammad nanti, kemenakan kita yang berbakti itu."
Abu Thalib menyetujui saran saudara perempuannya itu. Abu Thalib lalu memanggil Muhammad. " Anakku, sejak hari ini ambillah untaku. Pergilah ke rumah Khadijah untuk mengambil barang-barangnya, kau jualkan ke Syam atau ke mana saja. Keuntungannya serahkan sebagian kepadaku, akan kutabung untukmu."
Muhammad keberatan. Ia tak mau menawar-nawarkan diri kepada seorang wanita, kecuali apabila Khadijah sendiri memerlukan jasanya.
"Paman", ucap Muhammada. "Saya tidak akan ke rumah Kadijah kalau bukan dia sendiri yang memanggil saya."
Abu Thalib tidak tersinggung mendengar jawaban keponakannya seperti itu. Demikian pula Atikah. Sebab mereka tahu, Muhammad memiliki kepribadian yang tinggi dan harga diri yang besar. Ia menghoramti wanita, tapi ia tidak mau menggantungkan nasibnya kepada wanita. Bukankah laki-laki ditakdirkan untuk melindungi dan menyantuni wanita? Dan bukan sebaliknya.
Oleh sebab itu, diam-diam Atikah mendatangi Khadijah dan membicarakan masalah tersebut. Dengan suka hati Khadijah bersedia menolong. Lantaran dia sangat menyukai laki-laki yang mempunyai wibawa dan harga diri. Ia setuju terhadap permintaan Atikah agar dialah yang memanggil Muhammad, dan bukan Muhammad yang memohon kepadanya.
Sudah tentu Muhammad amat gembira mendapat panggilan dari seorang wanita peniaga yang kaya raya dan banyak menolong rakyat kecil yang menderita. Ia lebih gembira lagi karena Khadijah mempercayakan sejumlah barang perniagaan untuk dijual ke Negeri Syam
Demikianlah, dengan dilayani oleh salah seorang bujang Khadijah yang bernama Maisarah, Muhammad membawa membawa barang dagangan itu mengikuti kafilah niaga yang betolak ke Negeri Syam.
Berbeda dengan pedagang lainnya, Muhammad dalam meladeni pembeli sangat ramah dan jujur. Ia tidak mau mengambil keuntungan yang berlebihan. Tiap kali pembeli menanyakan harga suatu barang, Muhammad menjelaskan, "Dari yang punya harganya sekian. Saya akan menjualnya dengan harga lebih tingi sedikit "dari harga yang ditetapkan pemilik modal."
Cara berdagang seperti itu sangat menarik minat para pembeli sehingga barang-barang jualannya laku keras dan cepat habis.
Pada hari kepulangannya ke Mekkah, Muhammad disambut gembira oleh Khadijah. Apalagi ia pun dapat membelikan sejumlah barang yang dipesan oleh Khadijah.
Ketika ditanya oleh Khadijah, Maisarah sejujurnya menceritakan ,"Belum pernah saya menemukan seorang pemuda yang lebih baik dari Muhammad, diseluruh jazirah Arab dan di Negeri Syam sekalipun. Muhammad sangat luhur budi pekertinya. Amat sopan kepada siapa saja. Perangainya halus. Cita rasanya sangat tajam dan lembut. Sikapnya begitu ihlas, tawakal dan tak pernah menyerah.
pokoknya yang semacam Muhammad tak ada duanya."
Itulah yang memikat Khadijah sampai akhirnya ia bersedia menjadi istrinya. Dalam usia 40th, 15 tahun lebih tua dari suaminya, Muhammad.
Perempuan-perempuan itu naik pitam. Tanpa berpikir panjang, mereka mencaci-maki Yahudi tersebut. bahkan ada yang melemparinya dengan batu-batu kecil.
Seorang janda berusia sekitar 40 tahun, bernama Khadijah binti Khuwailid sama sekali tidak terbawa-bawa untuk ikut menista Yahudi itu. Ia sudah menjanda 2 x, jadi tak terpikir akan menjadi istri seorang Nabi.
Tapi ia teringat akan mimpinya semalam. Matahari turun di kota Makkah dan jatuh ke dalam rumahnya. Sinarnya memancar dari rumah dan menerangi sekitarnya. Aneh.
Pada saat yang hampir bersamaan, seorang bangsawan Quraisy bernama Abu Thalib sedang berunding dengan saudara perempuanny, Atikah. Mereka sedang memperbincangkan kemenakannya bernama Al Amien atau yang dapat dipercaya.
" Muhammad sudah 25 th, apakah tidak sebaiknya kita carikan jodoh untuknya?" usul Abu Thalib.
Atikah menyanggah, "Aku tidak setuju Muhammad belum punya apa-apa. Sebaiknya Muhammad kita suruh berdagang saja, seperti umumnya pria Quraisy".
"Dagang apa? dan dari mana modalnya?"
Atikah menjawab,"Kalau dia mau kita suruh saja membawa dagangan Khadijah. Banyak orang lain yang yang menjualkan barang perniagaan janda kaya itu. Terserah Khadijah sajalah disuruh dagang apalah Muhammad nanti, kemenakan kita yang berbakti itu."
Abu Thalib menyetujui saran saudara perempuannya itu. Abu Thalib lalu memanggil Muhammad. " Anakku, sejak hari ini ambillah untaku. Pergilah ke rumah Khadijah untuk mengambil barang-barangnya, kau jualkan ke Syam atau ke mana saja. Keuntungannya serahkan sebagian kepadaku, akan kutabung untukmu."
Muhammad keberatan. Ia tak mau menawar-nawarkan diri kepada seorang wanita, kecuali apabila Khadijah sendiri memerlukan jasanya.
"Paman", ucap Muhammada. "Saya tidak akan ke rumah Kadijah kalau bukan dia sendiri yang memanggil saya."
Abu Thalib tidak tersinggung mendengar jawaban keponakannya seperti itu. Demikian pula Atikah. Sebab mereka tahu, Muhammad memiliki kepribadian yang tinggi dan harga diri yang besar. Ia menghoramti wanita, tapi ia tidak mau menggantungkan nasibnya kepada wanita. Bukankah laki-laki ditakdirkan untuk melindungi dan menyantuni wanita? Dan bukan sebaliknya.
Oleh sebab itu, diam-diam Atikah mendatangi Khadijah dan membicarakan masalah tersebut. Dengan suka hati Khadijah bersedia menolong. Lantaran dia sangat menyukai laki-laki yang mempunyai wibawa dan harga diri. Ia setuju terhadap permintaan Atikah agar dialah yang memanggil Muhammad, dan bukan Muhammad yang memohon kepadanya.
Sudah tentu Muhammad amat gembira mendapat panggilan dari seorang wanita peniaga yang kaya raya dan banyak menolong rakyat kecil yang menderita. Ia lebih gembira lagi karena Khadijah mempercayakan sejumlah barang perniagaan untuk dijual ke Negeri Syam
Demikianlah, dengan dilayani oleh salah seorang bujang Khadijah yang bernama Maisarah, Muhammad membawa membawa barang dagangan itu mengikuti kafilah niaga yang betolak ke Negeri Syam.
Berbeda dengan pedagang lainnya, Muhammad dalam meladeni pembeli sangat ramah dan jujur. Ia tidak mau mengambil keuntungan yang berlebihan. Tiap kali pembeli menanyakan harga suatu barang, Muhammad menjelaskan, "Dari yang punya harganya sekian. Saya akan menjualnya dengan harga lebih tingi sedikit "dari harga yang ditetapkan pemilik modal."
Cara berdagang seperti itu sangat menarik minat para pembeli sehingga barang-barang jualannya laku keras dan cepat habis.
Pada hari kepulangannya ke Mekkah, Muhammad disambut gembira oleh Khadijah. Apalagi ia pun dapat membelikan sejumlah barang yang dipesan oleh Khadijah.
Ketika ditanya oleh Khadijah, Maisarah sejujurnya menceritakan ,"Belum pernah saya menemukan seorang pemuda yang lebih baik dari Muhammad, diseluruh jazirah Arab dan di Negeri Syam sekalipun. Muhammad sangat luhur budi pekertinya. Amat sopan kepada siapa saja. Perangainya halus. Cita rasanya sangat tajam dan lembut. Sikapnya begitu ihlas, tawakal dan tak pernah menyerah.
pokoknya yang semacam Muhammad tak ada duanya."
Itulah yang memikat Khadijah sampai akhirnya ia bersedia menjadi istrinya. Dalam usia 40th, 15 tahun lebih tua dari suaminya, Muhammad.
Subscribe to:
Comments (Atom)