Wednesday, 22 January 2014

4. Kesombongan Mengalahkan Hati Nurani

Sudah semenjak sebelum kedatangan Islam, Abu Dzar Al Ghifari bersahabat akrab dengan Am bin Hisyam yang terkenal  dengan julukannya Abu Jahal. Keduanya sama-sama saudagar dan malah berkongsi dagang yang saling menguntungkan. Bila berkunjung ke Mekkah Abu Dzar selalu membawa barang-barang dagangan yang dijual dengan perantara Abu Jahal.

pad suatu hari kedatangan Abu dzas tidak membawa apa-apa. Tidak barang-barang , tidak pula perniagaan.

Dengan kebingungan Abu Jahal bertanya'" Engkau membawa barang dagangan wahai sahabatku ?"

Abu dzar menjawab," Tidak"

"Engkau membawa uang?" tanya  Abu Jahal makin kebingungan.

"Juga tidak."

"Sudah gilakah engkau sahabatku? Datang jauh-jauh ke Mekkah tidak membawa barang ataupun uang. Jadi dengan tujuan apa engkau datang kemari?"

Dengan tenamg Abu Dzar menjelaskan," Kali ini kedatanganku kemari bukan untuk mengadu untung perdagangan."

"Lalu untuk apa?"

"Aku ingin bertemu dengan keponakanmu"

Abu Jahal semakin tidak mengerti ," Untuk bertemu dengan keponakanku? Siapa yang kau maksudkan?"

"Muhammad", Jawab Abu Dzar tegas. "Aku dengar dari beberapa sahabatku bahwa ia telah diangkat menjadi Rasul? Bukankah Muhammad adalah anak saudaramu? Engkau harus bangga mempunyai keponakan semulia itu."

Sambil mengernyitkan dahi, Abu jahal berkata kera, " Hai sahabatku, dengarkan nasihatku. jangan kau temui dia."

"Mengapa?"

"Muhammad itu amat menarik. Sekali berjumpa engkau pasti akan terpikat kepadanya. Wajahnya bersih, pakaiannya penuh mutiara hikmat. Perilakunya amat lembut dan sopan santunnya sangat luar biasa. Apalagi kalau dia membacakan wahyu, semua kalimatnya menyentuh jiwa."

"Berarti engkau yakin ia seorang Rasul ?"

"tentu saja ia seorang Rasul. Otaknya amat cerdas. Budi pekertinya sangat mulia. Ketabahannya melebihi manusia biasa. Daya tariknya hebat bukan main."

"Engkau yakin keponakanmu itu utusabn Allah?" tanya Abu Dzar.

"Yakin betul"

"Kau percaya bahwa ia benar?"

"Lebih dari sekedar percaya."

"Jadi engkau mengikuti ajaran agamanya?"

"Apa? geram Abu Jahal, "Ulangi sekali lagi pertanyaanmu!"

"Maksudku , apakah engkau sudah masuk Islam?"

"Aku masih tetap Abu Jahal, sahabatku, bukan orang yang sudah miring. Dibayar berapapun aku tetap tak mau mengikutinya."

"Bukankah emgkau yakin bahwa Muhammad benar?"

"Walaupun aku yakin Muhammad benar, aku tetap melawan sampai kapanpun juga."
"Apa sebabnya?"

Abu Jahal menjawab,"Kedudukn dan wibawaku akan hancur berantakan jika aku mengikuti keponakanku sendiri. Akn kuletakkan dimana mukaku di mata bangsa Quraisy."

"Pendirianmu keliru..sahabat," tegur Abu Dzar

"Aku tahu bahwa aku memang keliru"

"Kelak kau akan kalah"

"Ya. Bisa saja aku kalah. Bahkan aku tahu aku bakal dimasukkan ke dalam neraka jahim. Tapi aku tidak mau dikalahkan Muhammad di dunia, walaupun aku tahu akan dikalahkannya di akhirat kelak."

Demikianlah yang terjadi, hati nuarani sering terpaksa dikalahkan oleh keserakahan dan kesombongan diri.

No comments:

Post a Comment