Tuesday, 21 January 2014

3. Kenangan yang Mengesankan

Rumah tangga Rasulullah dengan Khadijah sangat harmonis walaupun ketika Rasulullah berusia 40th istrinya sudah berusia 55th.

Setelah Muhammad berhalwat di gua Hira', Khadijah yang membawakan makanan dan minuman untuk suaminya, walaupun jalan menuju ke gua Hira' yang terletak di puncak Jabal Nur sangat jauh dan tinggi, berbatu-batu runcing.

Sesudah mendapatkan wahyu, Muhammad menggigil kedinginan, Khadijah menyelimutinya dengan penuh kasih sayang. Dan hati Muhammad menjadi tenteram setelah menerima pernyataan Khadijah yang beriman kepadanya sebagai seorang utusan Tuhan.

Maka alangkah hancur hati Rasulullah ketika Khadijah meninggal dunia justru tatkala kelembutan dan kebijaksanaannya dibutuhkan pada saat-saat rawan menghadapi perlawanan kaum musyrikin pada awal penyebaran da'wahnya.

Hingga 3th lamanya Rasulullah tetap menduda. Setelah berhijrah ke Madinah, barulah beliau bersedia mengawini Siti Aisyah putri sahabatnya sendiri, Abu Bakar As-Shiddiq.

Aisyah adalah seorang gadis yang cantik. Satu-satunya yang perawan dan manis dari istri Rasulullah. Akan tetapi Nabi tidak dapat menghilangkan kenangan yang indah bersama Khadijah, yang usianya terpaut 15th lebih tua. Seringkali beliau mengigau dan dalam igauannya yang disebut-sebut adalah nama Khadijah.

Kalau sedang makan berdua, Nabi minta disediakan 3 piring. Dengan keberatan Aisyah bertanya," Untuk siapakah piring yang ketiga itu? Bukankah kita cuma berdua?"

Nabi menjawab,"Yang sepiring akan kusedekahkan bagi orang lain. Pahalanya kuberikan untuk Khadijah."

Sampai lama-lama Aisyah tidak tahan lagi dan bertanya," Ya Rasulullah...di hadapanmu ini ada istri yang cantik dan muda. Amat setia kepada suami... tetapi kenapa masih kau sebut-sebut juga yang sudah meninggal itu? yang kau nikahi sudah usia lanjut menurut ukuran wanita? Apa sebabnya? Dan apa rahasia kemuliaan wanita yang sudah janda 2 x sebelum menjadi istrimu tersebut?"

Nabi Muhammad SAW dengan bijaksana tetapi tegas menerangkan,"Aisyah ...Khadijah sungguh amat mulia. Allah tak kan pernah menggantikan untukku seorang istri yang lebih baik dari padanya."

"Apa keistimewaannya ya Rasulullah ?" tanya Aisyah lebih lanjut.

Nabi menjawab," Khadijah mencintaiku pada saat aku sedang sengsara. Khadijah beriman  kepadaku pada saat orang lain menganggapku gila. Khadijah banyak sekali memberi pengorbanan untukku pada saat orang lain menolak dan memusuhiku. Patutkah aku melupakan perempuan seagung itu...walaupun seandainya dia bukan istriku? Dan dia istriku, Aisyah. Ia tetap istriku hingga kapan juga. Maut pun tak dapat menghilangkan perasaan ini."

No comments:

Post a Comment